Apa Melatih Itu ?

Muncul pertanyaan klasik, apakah melatih itu ?. Melatih adalah coaching yang sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas atau latihan yang bermakna luas. Jadi melatih pada hakekatnya adalah suatu proses kegiatan untuk membantu orang lain (atlet) mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam usahanya mencapai tujuan tertentu. Melalui latihan, atlet berusaha keras mempersiapkan dirinya untuk mencapai target tertentu. Dengan kata lain, bahwa intervensi latihan, atlet dipacu untuk memperbaiki sistem organisme tubuhnya, perbaikan fungsinya secara optimal dalam rangka mencapai performa yang baik serta keunggulan dalam cabang olahraganya.

Pelatih harus memahami bahwa latihan yang sistematis merupakan konsep yang kompleks. Pelatihlah yang harus merencanakan ini semua secara cermat. Itulah sebabnya pelatih harus selalu tampil dengan mempertimbangkan berbagai aspek psikologis, fisiologis dan sosial dalam sekuens pelatihannya. Pengetahuan dan keterampilan menjabarkan aspek-aspek tersebut dalam praktikpelatihan merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh pelatih. Pada dasarnya coaching menjangkau peran sebagai melatih, mengajar, mendidik, memberikan petunjuk dan arahan bagi atlet untuk mencapai kesempurnaan penampilannya. bahkan konsekuensi melatih juga memberikan pemahaman dan bantuan untuk kebutuhan bagi para atletnya. Oleh karena itu, pelatih selalu saja dipacu untuk mengembangkan diri, cermat dan peduli terhadap pembinaan keharmonisan dan pergaulan sosial para atletnya.

Lingkungan latihan dan melatih adalah suatu konsep dan pekerjaan yang sangat kompleks. Mulai dari bagaimana merancang latihan, mengorganisasikan latihan, melaksanakan latihan, yang kesemuanya harus dilaksanakan dalam tempo lama. Proses kerja ini harus dilakukan dan senantiasa ditingkatkan secara bertahap dan progresif. Disamping itu, dalam praktik, pelatih harus terampil mencermati aspek kebutuhan individu, yang tentunya akan menyentuh pengetahuan tentang fisiologis, psikologis, dan kebutuhan individu setiap atlet. Sebagai pelatih harus mengembangkan cita-cita, keinginan dan harapan agar para atletnya dapat tampil prima, berprestasi tinggi dalam setiap kejuaraan yang diikuti. Dalam kaitan ini, sejauh mana atlet telah memiliki kondisi fisik dan kesempurnaan kesehatan dan keterampilan lain. Proses melatih merupakan strategi yang sarat dengan kepandaian untuk merangkai berbagai isu-isu pelatihan agar atlet termotivasi untuk terlibat dalam suasana latihan yang bergairah, tekun, dan bersemangat. Dalam kaitan ini aspek membangkitkan semangat berlatih merupakan keterampilan khusus yang harus dimiliki oleh setiap pelatih. Dalam proses latihan, pelatih harus terampil pula memberikan pemahaman tentang nilai-nilai spiritual, pembinaan sikap dan perilaku yang terpuji agar dalam diri atlet tercermin sikap ketulusan, kesucian moral yang utuh, disamping tetap memperhatikan kesempurnaan penampilan dan kemampuan fisik.

Oleh karena itu harus disadari betul bahwa melatih adalah suatu proses membantu atlet untuk memperbaiki atau meningkatkan penampilannya, prestasinya dengan tetap memberikan perhatian pada perbaikan kebugaran jasmaninya dan mental spiritualnya. Dengan kata lain, bahwa melatih juga membantu atlet untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, ketangkasan, keterampilan, dan perbaikan sikap dan perilaku. Pelatih akan merasa puas dan bangga hati manakala atletnya dapat tampil dalam arena pertandingan/kejuaraan dengan karakter dan sifat-sifat terpuji disertai usaha keras untuk mencapai prestasi dan keunggulan. Biasanya tampilan ini dapat terlihat pada gerakan-gerakan dan aktivitas gerak atlet tersebut, yang dilakukan dengan baik, lebih efisien, harmonis dengan koordinasi gerak yang tepat. Disamping itu nampak gerakan-gerakan yang dilakukan sangat konsisten, sehingga dengan kemampuan itu ia mampu menata kecepatannya, ketepatan gerakan sesuai keinginannya. Memang pelatih pada umumnya mengakui bahwa kesempurnaan fisik saja tidak menjamin atlet dapat mencapai sukses dalam pertandingan. Atlet secara bersamaan juga harus dibina untuk dapat memiliki pola dan kerangka berpikir yang tepat dan logis.

Kunci keberhasilan pelatih olahraga akan tergambar pada kemampuan dan keterampilan pelatih mengaplikasikan semua bentuk/materi latihan yang sudah dirancang sebelumnya dengan sistematis. Penerapan latihan yang sistematis, penuh variasi, bersinambungan merupakan faktor yang dapat menjawab tantangan pelatihan itu. Dalam hubungan ini aspek pendekatan psikologis, merupakan pergaulan sosial yang harmonis dan merupakan upaya strategi pelatihan yang harus dicermati oleh setiap pelatih. Faktor peningkatan kebugaran jasmani, peningkatan fisik atlet sangat gampang terlihat pada seorang atlet. Orang lain akan begitu gampang memberikan penilaian, baik yang bersifat positif ataupun negatif, hanya dengan melihat “kondisi fisik dan penampilan” atlet di lapangan. Kesalahan dan kekurangan yang tampak pada aspek individual skill, pelatih harus berusaha merekam dengan seksama pula. Oleh karena kesalahan tehnik yang berulang-ulang yang dilakukan oleh seorang atlet, tanpa adanya upaya pelatih untuk memperbaikinya, kelak atlet tersebut prestasinya akan mandek, bahkan mengalami penurunan prestasi. Untuk mengatasi masalah seperti itu, dibutuhkan kemampuan dan pengetahuan khusus, yang ada sangkut pautnya dengan keterampilan, pengetahuan untuk menunjukkan kesalahan tehnik/gerak atlet dan upaya seperti ini sangat membantu memperbaiki kelemahan individual skill atlet tersebut. Oleh karena itu pelatih terus berupaya secara cermat menemukan penyebab kesalahan tehnik yang dilakukan atlet itu. Kita sering mendengar kata bermakna yang mengatakan “coach causes, not symtoms”. Maksudnya ialah latihlah penyebab kesalahan, jangan gejala-gejalanya (Harsono, 1993).

Oleh sebab itu, pelatih olahraga sering dianggap sebagai orang yang serba tabu. Sebagai pelatih diharapkan selalu tampil dengan prima. sebagai organisator, pelatih harus cekatan mendisain program latihan yang baik, cermat dan sistematis. Oglive dan Tutko (1966); menjelaskan : ” …… The success of the coach may well depend on his ability to satisfy the complex and varied needs and axpectations of his players”. (Toward Better Coaching, 1980).

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Kepelatihan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s